3 Oktober 2026 · Musholah Miftahul Khoir
Dibaca 10 kaliMengenal Allah Lewat 20 Sifat Wajib: Kajian Rutin Sabtu Pagi di Mushollah Miftahul Khoir
Ditulis oleh Ibnu Gozali
BEKASI, VIDELS.MY.ID - Kajian rutin Sabtu pagi ba'da Subuh di Mushollah Miftahul Khoir, Jl. Piano 2 RT 001 RW 018, kembali digelar dengan khidmat. Kajian yang dilaksanakan setiap minggu pertama, ketiga, keempat hingga minggu kelima setiap bulannya ini dihadiri oleh para jamaah Mushollah Miftahul Khoir.
Pada pertemuan kali ini, kajian diisi oleh Ustadz Buya Husein http://S.Ag dengan membahas Kitab Aqidatul Awam, Bab II tentang Iman Kepada Allah, khususnya pada pembahasan A. Sifat-sifat Wajib Allah.
Dalam kitab tersebut dijelaskan nazham:
وَعْدٌ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَةْ ۞ مِنْ وَاجِبٍ لِلّٰهِ عِشْرِيْنَ صِفَةْ
_Setelah itu, maka ketahuilah tentang perkara kewajiban ma'rifat, di antaranya dua puluh sifat yang wajib (pasti) bagi Allah._
Penjelasan Kitab:
Setiap orang mukallaf wajib mengetahui dua puluh sifat Allah yang wajib, dua puluh sifat mustahil dan satu sifat jaiz. Demikian juga wajib mengetahui sifat-sifat nabi dan rasul yang wajib, mustahil dan jaiz.
Mayoritas ulama' menyatakan bahwa sifat wajib Allah ada tiga belas, karena tiga belas sifat ini disebutkan berulang-ulang di dalam al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan sifat yang lain (tujuh sifat) merupakan pengulangan dari sebagian sifat tiga belas.
Mukallaf adalah orang yang telah baligh (dewasa), berakal dan telah mendengar pokok dakwah Islam.
Sifat wajib adalah sifat yang tidak bisa diterima oleh akal ketiadaannya. Sifat mustahil adalah sifat yang tidak bisa diterima oleh akal keberadaannya. Sifat jaiz adalah sifat yang bisa diterima oleh akal keberadaannya dan ketiadaannya.
Syekh Syihabuddin ar-Ramli dalam Fatawanya yang dikumpulkan oleh anaknya Syamsuddin ketika ditanya tentang makna firman Allah: [Muhammad: 19] فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ padahal Nabi Muhammad telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan, maka beliau menjawab: "Maknanya adalah tetaplah atas keimanan kamu kepada Allah dengan meyakini keesaan-Nya, karena Nabi Muhammad mengetahuinya sebelum diangkat menjadi nabi, maka Allah memerintahkannya untuk tetap atas keyakinan tersebut."
Nabi Muhammad tumbuh dalam keadaan beriman kepada Allah melalui ilham sebelum diangkat menjadi nabi dengan dasar berfikir tentang alam langit dan bumi, maka beliau tidak pernah menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan kaumnya.
Sifat-sifat Wajib bagi Allah yang dibahas:
فَاللَّهُ مَوْجُوْدٌ قَدِيْمٌ بَاقِي ۞ مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ
_Yaitu Allah ada, ada-Nya tanpa permulaan, yang kekal, yang berbeda dengan makhluk secara mutlak._
1. Wujud: Allah ada, keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah alam semesta dengan segala isinya. Pergantian siang dan malam yang teratur, perjalanan matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya. Peristiwa semua ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Hal ini pasti ada yang menciptakan dan yang mengaturnya, yaitu Allah ta'ala.
Allah berfirman: أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan hari kebangkitan." (QS. Ar-Rum: 8)
2. Qidam (Qadim/azali): Allah ada tanpa permulaan, yaitu tidak ada permulaan ada-Nya, karena Allah yang telah menjadikan semua yang ada, maka Dia wajib bersifat qidam, ada-Nya tidak didahului dengan ketiadaan. Allah berfirman: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia maha mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)
Rasulullah SAW bersabda: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
"Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya." (HR. Bukhari)
3. Baqa': Allah kekal, keberadaan-Nya selalu ada tanpa batas akhir, Allah tidak mati, tidak mengalami kebinasaan dan tidak berubah, baik dzat maupun sifat-Nya. Allah kekal secara dzat, sedangkan surga dan neraka kekalnya bukan secara dzat, tetapi karena dikekalkan oleh Allah. Allah berfirman: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 26-27)
4. Mukhalafah lil Hawadits: Allah berbeda dengan makhluk-Nya, baik dari segi dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Allah berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ "Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya." (QS. Asy-Syura: 11) dan وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlash: 4)
وَقَائِمٌ غَنِيٌّ وَوَاحِدٌ وَحَيٌّ ۞ قَادِرٌ مُرِيْدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ
_Yang mengatur, yang tidak membutuhkan makhluk, yang esa, yang hidup, yang maha kuasa, yang berkehendak dan yang mengetahui segala sesuatu._
5. Qiyamuhu Bi Nafsihi: Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari makhluk, dan semua makhluk butuh kepada Allah. Allah maha kaya. Allah berfirman: وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا dan إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
6. Wahdaniyyah: Allah esa pada Dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Esa pada Dzat-Nya artinya Dzat-Nya tidak tersusun dari bagian-bagian, karena Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Jika dikatakan Dzat Allah, maka yang dimaksud adalah hakekat Allah. Allah berfirman: لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
7. Hayah: Allah hidup tanpa permulaan dan hidup selamanya. Allah hidup tanpa ruh, daging, darah, tulang, dan otak. Allah berfirman: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ
8. Qudrah: Allah kuasa atas segala sesuatu yang berkaitan dengan hal yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi menurut akal. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (QS. An-Nur: 45)
9. Iradah: Allah berkehendak yaitu mengkhususkan sesuatu yang mungkin terjadi menurut akal dengan sebagian sifat yang mungkin berlaku baginya, bukan sifat-sifat lain dan dengan suatu waktu, bukan dengan waktu lain. Allah berfirman: وَمَا تَشَاءُوْنَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ (QS. at-Takwir: 29)
10. Ilmu: Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu yang azali, tidak bertambah dan tidak berkurang karena ilmu-Nya satu yang meliputi segala pengetahuan. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (QS. Al-Mujadalah: 7)
سَمِيْعٌ الْبَصِيْرُ وَالْمُتَكَلِّمُ ۞ لَهُ صِفَاتٌ سَبْعَةٌ تَنْتَظِمُ
_Yang mendengar, yang melihat dan yang berfirman. Untuk Allah ada tujuh sifat yang disebut nazhamnya._
Kajian ditutup dengan doa bersama agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah keimanan kepada Allah SWT. Para jamaah tampak antusias mengikuti kajian kitab Aqidatul Awam ini sebagai bekal penguatan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah.
Pada pertemuan kali ini, kajian diisi oleh Ustadz Buya Husein http://S.Ag dengan membahas Kitab Aqidatul Awam, Bab II tentang Iman Kepada Allah, khususnya pada pembahasan A. Sifat-sifat Wajib Allah.
Dalam kitab tersebut dijelaskan nazham:
وَعْدٌ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَةْ ۞ مِنْ وَاجِبٍ لِلّٰهِ عِشْرِيْنَ صِفَةْ
_Setelah itu, maka ketahuilah tentang perkara kewajiban ma'rifat, di antaranya dua puluh sifat yang wajib (pasti) bagi Allah._
Penjelasan Kitab:
Setiap orang mukallaf wajib mengetahui dua puluh sifat Allah yang wajib, dua puluh sifat mustahil dan satu sifat jaiz. Demikian juga wajib mengetahui sifat-sifat nabi dan rasul yang wajib, mustahil dan jaiz.
Mayoritas ulama' menyatakan bahwa sifat wajib Allah ada tiga belas, karena tiga belas sifat ini disebutkan berulang-ulang di dalam al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan sifat yang lain (tujuh sifat) merupakan pengulangan dari sebagian sifat tiga belas.
Mukallaf adalah orang yang telah baligh (dewasa), berakal dan telah mendengar pokok dakwah Islam.
Sifat wajib adalah sifat yang tidak bisa diterima oleh akal ketiadaannya. Sifat mustahil adalah sifat yang tidak bisa diterima oleh akal keberadaannya. Sifat jaiz adalah sifat yang bisa diterima oleh akal keberadaannya dan ketiadaannya.
Syekh Syihabuddin ar-Ramli dalam Fatawanya yang dikumpulkan oleh anaknya Syamsuddin ketika ditanya tentang makna firman Allah: [Muhammad: 19] فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ padahal Nabi Muhammad telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan, maka beliau menjawab: "Maknanya adalah tetaplah atas keimanan kamu kepada Allah dengan meyakini keesaan-Nya, karena Nabi Muhammad mengetahuinya sebelum diangkat menjadi nabi, maka Allah memerintahkannya untuk tetap atas keyakinan tersebut."
Nabi Muhammad tumbuh dalam keadaan beriman kepada Allah melalui ilham sebelum diangkat menjadi nabi dengan dasar berfikir tentang alam langit dan bumi, maka beliau tidak pernah menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan kaumnya.
Sifat-sifat Wajib bagi Allah yang dibahas:
فَاللَّهُ مَوْجُوْدٌ قَدِيْمٌ بَاقِي ۞ مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ
_Yaitu Allah ada, ada-Nya tanpa permulaan, yang kekal, yang berbeda dengan makhluk secara mutlak._
1. Wujud: Allah ada, keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah alam semesta dengan segala isinya. Pergantian siang dan malam yang teratur, perjalanan matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya. Peristiwa semua ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Hal ini pasti ada yang menciptakan dan yang mengaturnya, yaitu Allah ta'ala.
Allah berfirman: أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan hari kebangkitan." (QS. Ar-Rum: 8)
2. Qidam (Qadim/azali): Allah ada tanpa permulaan, yaitu tidak ada permulaan ada-Nya, karena Allah yang telah menjadikan semua yang ada, maka Dia wajib bersifat qidam, ada-Nya tidak didahului dengan ketiadaan. Allah berfirman: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia maha mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)
Rasulullah SAW bersabda: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
"Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya." (HR. Bukhari)
3. Baqa': Allah kekal, keberadaan-Nya selalu ada tanpa batas akhir, Allah tidak mati, tidak mengalami kebinasaan dan tidak berubah, baik dzat maupun sifat-Nya. Allah kekal secara dzat, sedangkan surga dan neraka kekalnya bukan secara dzat, tetapi karena dikekalkan oleh Allah. Allah berfirman: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 26-27)
4. Mukhalafah lil Hawadits: Allah berbeda dengan makhluk-Nya, baik dari segi dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Allah berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ "Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya." (QS. Asy-Syura: 11) dan وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlash: 4)
وَقَائِمٌ غَنِيٌّ وَوَاحِدٌ وَحَيٌّ ۞ قَادِرٌ مُرِيْدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ
_Yang mengatur, yang tidak membutuhkan makhluk, yang esa, yang hidup, yang maha kuasa, yang berkehendak dan yang mengetahui segala sesuatu._
5. Qiyamuhu Bi Nafsihi: Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari makhluk, dan semua makhluk butuh kepada Allah. Allah maha kaya. Allah berfirman: وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا dan إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
6. Wahdaniyyah: Allah esa pada Dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Esa pada Dzat-Nya artinya Dzat-Nya tidak tersusun dari bagian-bagian, karena Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Jika dikatakan Dzat Allah, maka yang dimaksud adalah hakekat Allah. Allah berfirman: لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
7. Hayah: Allah hidup tanpa permulaan dan hidup selamanya. Allah hidup tanpa ruh, daging, darah, tulang, dan otak. Allah berfirman: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ
8. Qudrah: Allah kuasa atas segala sesuatu yang berkaitan dengan hal yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi menurut akal. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (QS. An-Nur: 45)
9. Iradah: Allah berkehendak yaitu mengkhususkan sesuatu yang mungkin terjadi menurut akal dengan sebagian sifat yang mungkin berlaku baginya, bukan sifat-sifat lain dan dengan suatu waktu, bukan dengan waktu lain. Allah berfirman: وَمَا تَشَاءُوْنَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ (QS. at-Takwir: 29)
10. Ilmu: Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu yang azali, tidak bertambah dan tidak berkurang karena ilmu-Nya satu yang meliputi segala pengetahuan. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (QS. Al-Mujadalah: 7)
سَمِيْعٌ الْبَصِيْرُ وَالْمُتَكَلِّمُ ۞ لَهُ صِفَاتٌ سَبْعَةٌ تَنْتَظِمُ
_Yang mendengar, yang melihat dan yang berfirman. Untuk Allah ada tujuh sifat yang disebut nazhamnya._
Kajian ditutup dengan doa bersama agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah keimanan kepada Allah SWT. Para jamaah tampak antusias mengikuti kajian kitab Aqidatul Awam ini sebagai bekal penguatan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah.
